KONSULTASI GIZI

By rosni herlani

Hepatitis B

Gambaran Umum

Virus Hepatitis B adalah penyebab utama penyakit yang dikenal masyarakat dengan istilah “Sakit Kuning” atau “Lever”. Paparan virus hepatitis B ditunjukkan dengan hasil tes HBsAg positif dan anti HBsAg negatif. Apabila tidak ditangani dengan baik orang yang telah terpapar virus ini dapat mengalami gangguan hati dan berpotensi menjadi penyakit hepatitis B kronis dan sisosis hati.

Pada umumnya, gejala penyakit Hepatitis B  termasuk ringan. Gejala tersebut dapat berupa selera makan hilang, rasa tidak enak di perut, mual sampai muntah, demam ringan, kadang-kadang disertai nyeri sendi dan bengkak pada perut kanan atas. Setelah satu minggu akan timbul gejala utama seperti bagian putih pada mata tampak kuning, kulit seluruh tubuh tampak kuning (jaundice) dan air seni berwarna seperti teh bahkan pada sebagian orang disertai dengan rasa gatal pada kulit dikarenakan kadar bilirubin pada darah yang tinggi. Infeksi sering kali tidak disertai gejala apapun, sehingga tidak mendapatkan penanganan yang semestinya.

Ada 3 kemungkinan tanggapan kekebalan yang diberikan oleh tubuh terhadap virus Hepatitis B pasca periode akut. Kemungkinan pertama, jika tanggapan kekebalan tubuh cukup kuat  maka akan terjadi pembersihan virus, pasien sembuh. Kedua, jika tanggapan kekebalan tubuh lemah maka pasien tersebut akan menjadi carrier inaktif. Ketiga, jika tanggapan tubuh bersifat intermediate (antara dua hal di atas) maka penyakit terus berkembang menjadi hepatitis B kronis.

Penularan Penyakit Hepatitis B

Hepatitis B merupakan bentuk Hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya. Penderita Hepatitis B bisa terjadi pada setiap orang dari semua golongan umur. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan virus Hepatitis B ini menular. Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan. Secara horisontal, dapat  terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama serta hubungan seksual dengan penderita.

Sebagai antisipasi, biasanya darah yang diterima dari pendonor akan di tes terlebih dahulu apakah darah yang diterima reaktif terhadap Hepatitis, Sipilis dan HIV.
Sebenarnya tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari hasil pemeriksaan darah, dapat  diketahui seseorang pernah terkena hepatitis, sudah kebal atau bahkan virusnya sudah tidak ada. Bagi pasangan yang hendak menikah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan pasangannya untuk mencegah penularan penyakit ini.

Perawatan Penyakit Hepatitis B

Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat  tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.

Hepatitis B akut umumnya dapat sembuh dan hanya 10% yang menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang dapat meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine dan adefovir dan modulator sistem kebal seperti Interferon Alfa (Uniferon) (Suharjo JB, Cahyono B 2006).

Diet Untuk Hepatitis B

Saran diet harus didasarkan pada keadaan dan tergantung pada gejala yang dialami pada waktu tertentu. Secara umum persyaratan yang sehat atau ‘balanced’ diet  terdiri dari makanan biasa dari lima kelompok makanan yaitu karbihidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.  Ini juga berarti pasien yang terkena hepatitis harus mendapatkan asupan zat gizi yang baik. Jika seseorang tidak mengalami gejala apapun yang berkaitan dengan infeksi atau obat-obatan, diet seimbang cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tubuh. Pasien yang tidak memiliki penyakit hati lanjutan tidak perlu mengikuti diet khusus untuk hepatitis B berbeda dengan pasien dengan penyakit hati lanjutan mungkin memerlukan diet khusus seperti diet rendah protein untuk mencegah koma dan meminimalkan kerusakan pada otak (ensefalopati) akibat  peningkatan amoniak dalam darah.

Pasien dengan hepatitis B seharusnya hanya memastikan mereka makan normal, makanan sehat, menghindari alkohol atau obat-obatan yang berpotensi beracun ke hati, seperti Tylenol, dan lain sebagainya. Pasien dapat mengonsumsi makanan yang mengandung energi dan protein tinggi sesuai kebutuhan. Namun, pasien tidak boleh mengonsumsi makanan secara berlebihan. Konsumsi lemak tidak berlebihan, cukup 20%-25% total energi, sebagian asam lemak rantai sedang. Pasien dapat diberi makanan yang dimasak menggunakan minyak kelapa yang mengandung asam lemak rantai sedang.

Seseorang yang terkena hepatitis B harus berusaha diet dengan tinggi karbohidrat yaitu sekitar 60-70 % karbohidrat, dengan karbohidrat tinggi terutama karbohidrat sederhana dan menghindari mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak tinggi karena makanan yang mengandung lemak tinggi akan memperberat kerja hati. Diet yang seimbang akan mencakup setidaknya 400 gram karbohidrat. Apabila asupan karbohidrat terlalu sedikit maka akan mengakibatkan asupan protein dan lemak berlabih. Asupan protein yang tinggi sedangkan karbohidrat rendah akan memaksa hati untuk menggunakan protein sebagai sumber energi. Hal ini menjadi tidak efisien dalam penggunaan protein, karena protein yang seharusnya digunakan untuk membangun jaringan dan sel hati yang rusak digunakan sebagai sumber energi. Selain itu, asupan protein yang tinggi akan meningkatkan stres pada hati karena memperberat kerja hati dengan keharusan hati  mengkonversi protein menjadi energi. Apabila asupan lemak yang berlebih dan karbohidrat rendah  akan mengakibatkan gangguan kesehatan seperti non alcoholic fatty liver diseases (NAFLD). sehingga perlu diperhatikan bahwa makanan dari karbohidrta kompleks seperti pasta yang disajikan dengan sauce, krim, mentega atau minyak sangat tidak dianjurkan.

Vitamin dan mineral diberikan kepada pasien hepatitis sesuai dengan tingkat defisiensi. Bila perlu suplemen vitamin B kompleks, C, dan K serta mineral seng dan zat besi apabila disertai anemia. Akan tetapi, perlu diperhatikan dosis dan cara pemberiannya. Konsumsi suplemen vitamin tidak boleh berlebihan karena dapat menambah beban hati. Demikian pula, konsumsi suplemen mineral tidak berlebihan karena penumpukan zat besi di hati memperberat kerja hati.

Pasien dapat mengonsumsi makanan porsi kecil dan frekuensi sering. Makanan dapat diberikan dengan  tujuh kali waktu makan, yaitu empat kali makanan utama dan tiga kali makanan selingan. Pasien dapat mengonsumsi makanan utama nasi, lauk hewani, lauk nabati, dan sayuran, misalnya pagi pukul 07.00, siang 11.00, dan 16.00, malam pukul 20.00. Makanan selingan buah dan makanan kecil atau susu rendah lemak bisa dikonsumsi pagi pukul 09.00, siang 13.00, dan sore 18.00.

Bahan makanan yang dibatasi untuk diet hati atau diet hepatitis B adalah semua makanan sumber lemak dan daging yang banyak mengandung lemak dan santan serta bahan makanan yang menimbulkan gas seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak, ketimun, durian, dan nangka. Sedangkan bahan makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan yang mengandung alkohol, teh, atau kopi kental.

Leave a Reply